Peternakan
Universitas Muhammadiyah Malang
Peternakan
Universitas Muhammadiyah Malang

Pilah-pilih Ventilasi Demi Performa Broiler

Author : Administrator | Sabtu, 18 Februari 2012 08:01 WIB
Foto : Trobos.com


Tipe tunnel paling banyak dipilih karena sesuai iklim tropis dan ekonomis. Tetapi tipe kombinasi cross flow – tunnel, menurut para ahli lebih menjanjikan performa, meski diakui investasinya lebih besar

 

Di areal peternakan broiler (ayam pedaging) berbendera ”Wabin Farm” yang berlokasi di Serang itu terdapat dua tipe kandang yang berbeda. Kandang pertama merupakan open house (kandang terbuka) bertipe postal, ukuran lebar 6 m dan panjang 64 m, dengan dinding kandang tertutup tirai terpal plastik. Turun naik tirai menjadi sistem ventilasi udara yang pengaturannya menggunakan boat winch, sejenis alat pengerek.

Kandang juga dilengkapi beberapa blower (kipas penghembus angin) yang difungsikan sewaktu cuaca panas. Meskipun telah dilengkapi boat winch dan blower, suhu dan kelembaban dalam kandang masih sangat dipengaruhi lingkungan luar karena sifatnya yang terbuka. ”Tetapi ditopang manajemen yang baik dan terkontrol, kandang ini saban periode mampu mencatatkan IP (Indeks Performa) di kisaran 340 sampai 360,” terang Ansori, Kepala Unit peternakan broiler tersebut kepada TROBOS (14/12).

Tak jauh dari lokasi kandang pertama, berdiri closed house (kandang tertutup) berlantai 1. Yang membedakan secara fisik, di sisi kanan dan kiri dinding bagian ujung depan terdapat inlet, tanpa cooling pad, dengan panjang sekitar 12 m. Fungsinya adalah memasukkan udara luar ke dalam kandang. Sisa panjang dinding setelah dikurangi panjang inlet tadi ditutup kedap dengan tirai terpal plastik.

Plafon dalam kandang pun menggunakan terpal plastik. Lalu di bagian ujung belakang terdapat 6 exhaust fan (kipas penghisap udara) dari dalam kandang. Alhasil, suhu dan kelembaban kandang pun dapat diatur sesuai kebutuhan broiler. Signifikan performanya, menurut Ansori, closed house dengan lebar 12 m dan panjang 100 m ini mampu menembus nilai IP 400-an tiap periodenya.

 

Ventilasi Natural vs Mekanis

Perbedaan IP yang besar sangat dipengaruhi oleh tipe sistem ventilasinya. Mengenai tipe sistem ventilasi pada open house dan closed house, Stig Veis Jorgensen yang Marketing Manager Skov, perusahaan peralatan kandang ternak asal Denmark, memberikan penjelasan. Tipe ventilasi open house ia istilahkan dengan ventilasi alami, sedangkan closed house ventilasi mekanis.

Terang Stig, ventilasi alami sangat bergantung pada lingkungan luar kandang. Tirai difungsikan untuk memasukkan dan mengeluarkan udara. Satu sisi dinding sebagai pemasok udara dan satunya lagi sebagai pengeluar udara. Namun faktanya ventilasi ini akan sangat bergantung pada arah angin.

Sedangkan ventilasi mekanis, lanjut Stig, udara segar dari luar masuk melalui inlet. Lalu udara panas, debu, dan gas (CO2, CH4, NH3 dan H2S) dalam kandang ditarik ke luar menggunakan exhaust fan.

Menurut Marketing Manager Equipment Division PT Agrinusa Jaya Santosa, Teddy Chandra, tujuan utama sistem ventilasi kandang adalah memberikan kenyamanan pada ayamyang dipelihara. ”Ventilasi natural tidak selalu bisa memberikan kenyamanan. Apakah ventilasi natural bisa menyediakan suhu tertentu secara konstan dalam 24 jam? Nyatanya tidak setiap saat ada hembusan angin. Bila ada, kecepatannya belum tentu sesuai. Ini akan berpengaruh pada suhu dan kelembaban dalam kandang,” katanya tentang kelemahan ventilasi natural.

Kedua adalah fluktuasi suhu dalam kandang. Pada kandang berventilasi natural, berdasar pengalaman Stig, perbedaan suhu antara siang dan malam dalam kandang bisa mencapai 10 – 15 oC. Alhasil tidak bisa mencapai performa optimal. Berikutnya adalah kualitas udara dan kepadatan kandang yang sulit dioptimalkan bila menggunakan ventilasi natural.

 

Tipe Ventilasi Closed House

Open housedengan sekian hambatannya dalam hal ventilasi, menurut Syahrir Akil – General Manager PT Charoen Pokphand Indonesia membuat closed house jadi keniscayaan. Namun, sambungnya, sistem ventilasi pada closed house pun ada beberapa tipe dan tidak semua tipe cocok diaplikasikan di Indonesia. ”Yang mempopulerkan beberapa tipe itu adalah negara-negara di subtropis (memiliki 4 musim), sehingga perlu analisa dan penyesuaian bila ingin kita gunakan,” katanya.

Stig menyebut 3 tipe sistem ventilasi pada closed house: cross-flow atau juga disebut side-mode, tunnel, dan combi-tunnel. Cross-flow, terang Stig, menggunakan inlet-inlet kecil yang dipasang di dinding kandang sebagai pemasok udara dari lingkungan. Udara yang masuk tadi bercampur dengan udara dalam kandang terlebih dahulu sebelum turun ke level ayam. Sambung Syahrir, sistem ventilasi ini banyak diaplikasikan di negara subtropis, karena dapat menjaga agar udara tetap hangat. Timpal Nilton, ventilasi ini memerlukan perhatian lebih dan teknik khusus dalam mengoperasikannya.

Kemudian tunnel, lanjut Stig, konsepnya mengambil udara dari lingkungan melalui inlet dari satu sisi ujung kandang, dan udara dalam kandang ditarik keluar dari sisi lain menggunakan exhaust fan. Kata Nilon, sistem ventilasi ini bekerja dengan memanfaatkan ”wind chill effect” atau efek aliran angin untuk menurunkan suhu panas yang dirasakan ayam. Sementara menurut Syahrir, sistem ini banyak diaplikasikan di negara dengan 2 musim.

Terakhir combi-tunnel, tutur Stig, adalah gabungan antara cross-flow dan tunnel. ”Saat cuaca dingin, digunakan konsep cross-flow. Bila cuaca panas, konsep tunnel yang diaplikasikan. Combi-tunnel ini cocok untuk wilayah subtropis dan tropis,” jelasnya.

Seolah menyimpulkan, Syahrir mengatakan, meski tiap tipe ventilasi itu berbeda konsep kerjanya, tapi satu tujuan. ”Yaitu menciptakan lingkungan dalam kandang yang sesuai dengan kebutuhan ayam, menciptakan stabilisasi suhu kandang, serta meningkatkan produktivitas dan efisiensi kandang. Konsep kerja utamanya adalah menyediakan oksigen yang cukup dan mengeluarkan kelebihan panas, uap air, dan gas berbahaya dari dalam kandang,” urainya.

 

Tunnel dan Karakteristiknya

Menurut Syahrir, dari ketiga ventilasi closed house itu, tunnel adalah paling cocok untuk Indonesia yang beriklim tropis dan lembab. Pasalnya, selain lebih ekonomis dibanding 2 sistem lainnya, tunnel dapat bekerja dengan baik di wilayah bersuhu 35 oC ke bawah dengan tingkat kelembaban yang tak terbatas. ”Ventilasi ini mengandalkan aliran angin untuk menyediakan oksigen yang cukup dan mengeluarkan uap air, panas, dan gas dari dalam kandang,” tuturnya. Udara yang mengandung uap air, panas, dan gas itu harus terbuang keluar dalam waktu 1 menit.

 

Ruang Plenum

Di Wabin Farm, TROBOS mendapati hal berbeda pada closed house peternakan tersebut. Closed house berventilasi tunnel ini memiliki ruang khusus yang kata Ansori dinamakan ruang plenum. Letaknya di dalam kandang dan dekat dengan inlet. Ukurannya sekitar 12 m x 4 m. Terdapat 2 tirai yang menutup bagian depan dan belakang ruang ini. Tapi tak tertutup semua, terbuka sekitar 20 cm di bagian atas untuk aliran udara yang baru saja masuk melalui inlet. Bukaan sebesar 20 cm ini dilengkapi tirai yang bergerak seperti katup, saat exhaust fan menghisap udara dalam kandang, maka ia akan terbuka.

Kombinasi Cross-Flow dan Tunnel

Meski tunnel terbukti cocok diaplikasikan di Indonesia dan lebih ekonomis, untuk mendapatkan performa yang lebih baik lagi, Nilton merekomendasikan combi-tunnel. Kombinasi antara cross-flow dan tunnel ini, katanya, merupakan perpaduan yang sempurna sebab dapat memenuhi aspek efisiensi produksi dan ekonomi. Penghematan energi pun lebih baik.

Dipublikasikan : http://www.trobos.com

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image