Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kuliah bersama dengan Assoc Prof. Omer Daniz, Dosen Universitas Kastamonu, Turkey pada Selasa, 29 April 2025.

Pada perkuliahan tersebut, Assoc Prof. Omer mengajarkan mengenai penyakit akibat mikroorganisme pada hewan ternak. Pertama, penyakit akibat mikroorganisme yang dapat menjangkit hewan ternak adalah kriptosporidiosis. Kriptosporidiosis merupakan penyakit parasitik yang menyerang usus hewan mamalia yang disebabkan oleh genus protozoa cryptosporidium.

Penyakit ini dapat menjangkit hewan ternak satu sampai empat minggu setelah hewan ternak terjangkit. Sendi hewan akan lemah dan kehilangan energi serta mengalami dehidrasi. Selain itu, hewan ternak cenderung mengalami diare hebat serta pada fesenya mengandung darah dan lendir.

Hampir sama seperti kriptosporidiosis, penyakit yang dapat menjangkit kepada hewan ternak yakni kolibasilosis. Secara umum, kolibasilosis merupakan penyakit infeksi bakteri Escherichia Coli (E. Coli). Infeksi ini terjadi ketika tubuh mamalia kelebihan bakteri E.Coli yang dapat menyebabkan infeksi dan penyakit tertentu pada hewan ternak.

Setelah masuk ke dalam tubuh, E. Coli akan mengalami tiga perubahan yaitu septisemik form, enterotoksemik form, dan enterik form. Septisemik form terjadi dua sampai tiga jam setelah hewan terjangkit. Pada kondisi ini, hewan akan mudah mengalami depresi dan perubahan suhu tubuh.

Fase kedua adalah enterotoksemik form yang terjadi tiga sampai enam hari setelah terjangkit. Pada kondisi ini hewan akan mengalami dehidrasi, tampak lesu, dan suhu tubuh semakin menurun. Setelah itu, E. Coli akan mengalami fase enterik form yang menyebabkan pelemahan pada persendian hewan. Pada kondisi ini, hewan ternak akan mengalami diare hebat dengan feses berwarna kuning cerah.

Kedua penyakit ini memiliki kesamaan pada reaksi yang diberikan pada hewan ternak.
“Biasanya, mamalia akan berperilaku lebih lesu, dehidrasi, diare berlebih, dan rasa ingin buang air besar terus menerus bahkan kondisi perut saat kosong,” ucapnya.

Pada hewan ternak yang telah terinfeksi mikroorganisme ini dapat dilakukan diagnosis pertama seperti melakukan pemeriksaan menggunakan rapid diagnostic kits. Pemeriksaan ini cukup efektif untuk melihat infeksi yang terjadi pada mamalia ternak.

Kemudian, hewan ternak akan dipuasakan selama 12 jam dan pemberian suplemen kesehatan serta elektrolit agar hewan ternak tidak lemas. Kemudian hewan ternak dapat diberikan antibiotik, suplemen mineral, elektrolit, suplemen anti-endotoxemic untuk menuntaskan gejala serta parasite yang ada pada usus hewan.

Omer mengatakan bahwa kedua infeksi ini dapat terjadi akibat kebersihan kandang yang kurang terjaga, hewan ternak yang telah terjangkit penyakit ini sebelumnya, makanan yang tercemar mikroorganisme, dan kondisi lingkungan kandang yang tidak sesuai.
“Untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya sebagai peternak harus melakukan perawatan kandang secara rutin, pemberian disinfektan pada kandang secara rutin, pemberian antiserum, suplemen kesehatan, dan menjaga kondisi lingkungan kandang agar mikroorganisme tidak dapat tumbuh. Jika melakukan hal tersebut, dapat mengurangi aktivitas mikroorganisme pada hewan ternak,” ucapnya mengakhiri