Peternakan UMM – Beternak ayam petelur memiliki resiko tinggi rentan terhadap penyakit. Salah satunya adalah penyakit saluran pernapasan akibat gas amonia yang ditimbulkan kotoran ayam. Selain itu, gas amonia juga dapat menurunkan kualitas serta kuantitas dari telur ayam.

Menjawab hal tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merancang formulasi disinfektan alami untuk mengatasi kadar gas amonia serta hidrogen sulfida. Disinfektan tersebut diambil dari senyawa fenolik daun gambir yang banyak ditemukan di Indonesia.

Para Perancang

Ialah, Farid Wahidin, Annisa Adelia Zulfana, Yulya Ulfa Majoli, Ferdi Dwi Maulana Harianto, dan Hasni Achmadi Syafar yang merancang formulasi disinfektan dari daun gambir untuk diterapkan pada peternak ayam petelur. Ia mengatakan bahwa daun gambir memiliki senyawa katekin mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram positif seperti bakteri oreolitik.

Bakteri oreolitik merupakan bakteri yang dapat menghasilkan enzim urea untuk menguraikan urea menjadi amonia dan hidrogen sulfida. Jenis bakteri ini banyak ditemukan tumbuh alami pada kotoran hewan yang memiliki banyak kandungan urea di dalamnya.

“Apabila dalam batas normal, bakteri ini akan membantu untuk menguraikan kotoran menjadi gas amonia dan karbondioksida. Tapi seringnya dalam kondisi berlebih, gas amonia hasil penguraian bakteri oreolitik menyebabkan masalah baru berupa sakit pernapasan pada ayam petelur,” tambah Farid selaku ketua tim.

Dampak utama gas amonia dan hdrogen sulfida yang berlebih dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi telur ayam petelur. Batas maksimal kadar gas amonia di kandang ayam adalah berkisar 20-25 pmm (Part Per Million). Jika melebihi batas tersebut, gas amonia dan hidrogen sulfida dapat menyebabkan pembentukan kerabang telur abnormal dan cangkang telur tipis. Kerabang merupakan lapisan terluar telur pada unggas yang melindungi telur unggas dari mikroorganisme dan penyakit.

Efek Samping

Selain itu, gas amonia dan hidrogen sulfida yang berlebih juga menyebabkan permasalahan lingkungan seperti penyebab efek rumah kaca, bau ‘pesing’ yang ditimbulkan. Selain itu, masalah pernapasan yang berdampak pada anak buah kandang (ABK) dan masyarakat sekitar lokasi kandang, juga menjadi diantaranya.

Farid menambahkan, bahwa ekstrak senyawa katekin daun gambir dapat segera diterapkan pada peternak ayam petelur setelah formulasi yang dibuat diresmikan. Setelah melakukan pengujian formulasi disinfektan daun gambir, pada konsentrasi 9%, senyawa katekin dapat menurunkan kadar amonia hingga 43,1%.
“Hasil ini masih kami uji coba agar kadar ammonia dan hydrogen sulfide dapat turun hingga 50% dari batas aman kadar gas di kandang,” ucapnya.

Harapannya, melalui penelitian ini permasalahan bau amonia dan efeknya pada ayam petelur dapat teratasi dan produktivitas telur dapat terus meningkat. Selain itu, Farid dan tim juga akan terus merancang formulasi terbaik dan melakukan pengujian pada kandang secara langsung. Diharapankan untuk melihat penurunan signifikan gas amonia dan hidrogen sulfida.