Exa, Mahasiswi Peternakan yang Raih Nilai Tertinggi di Ujian CoE Profesional Unggas

Exa

Jangan puas atas pencapaian yang didapat saat ini, karena masih banyak pencapaian yang harus diraih di hidup ini. Hal tersebut dikatakan oleh Exa Fazarrianti Mahasiswi Program Studi (Prodi) Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berhasil meraih predikat nilai terbaik pada program CoE Profesional Unggas yang diadakan oleh Peternakan UMM dan bekerjasama dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Melalui jerih payahnya selama lima bulan magang dan pembelajaran intensif oleh para DUDI selama satu minggu, ia berhasil menyelesaikan kegiatan tersebut dengan predikat terbaik. “Jika ditanya perasaannya, tentu sangat bersyukur. Karena apa yang saya perjuangkan dan didukung oleh orang tua bisa tercapai saat ini,” ucapnya. Program di CoE Profesional Unggas Peternakan UMM merupakan program yang diselenggarakan untuk memfasilitasi mahasiswa belajar mengenai unggas dari beberapa DUDI secara langsung. Teaching farm merupakan program unggulan Peternakan UMM yang ditujukan untuk memberikan gambaran dan praktik langsung mengenai peternakan unggas. Kegiatan tersebut dijalankan setelah magang industri dan dihadiri oleh beberapa DUDI seperti PT. Charoend Pokphand Jaya Farm, PT. Jatinom Indah Farm, PT. Cipta Terang Unggul Farm, dan lain-lain. Selama kegiatan Teaching Farm, mahasiswa akan diajari praktik manajemen unggas, manajemen starter, grower layer, kesehatan unggas, dan lain-lain secara langsung dan didampingi oleh para DUDI. “Jadi, selama program ini, mahasiswa itu tidak hanya diajarkan teori di kelas, tapi juga ikut terjun ke kandang untuk menjalankan prosesnya secara langsung,” ucapnya. Mahasiswa juga tidak hanya diajari pemahaman mengenai unggas, namun juga pemahaman mengenai pendidikan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kritis terhadap suatu permasalahan. Mahasiswa dituntut untuk sanggup bekerja sebagai manajer di tempat ia menjalankan program magang industru dengan memberikan arahan kepada karyawan secara langsung. Sebagai informasi, Exa menjalankan program magang di PT. Jatinom Indah Farm divisi starter. Disitu, ia belajar mengenai persiapan kandang, biosekuriti kandang, manajemen kandang, manajemen pakan, dan lain sebagainya. Selama ia magang, ia lebih banyak mempelajari dan praktik secara langsung dengan didampingi oleh pihak manajer serta karyawan disana. Hasilnya terlihat ketika ia menjalani Ujian Kompetensi (UKOM) oleh DUDI dengan hasil yang terbaik. Nilai ukom tersebut nantinya akan dicantumkan pada sertifikat yang dapat digunakan untuk mempermudah masuk di dunia industri. Tips yang Exa bagikan untuk mencapai nilai terbaik adalah latihan pemahaman, mengerjakan soal, dan sering mengevaluasi hasil praktik maupun belajar. Ketika hal tersebut dikerjakan dengan tekun dan berulang, maka ilmu yang diajarkan oleh DUDI akan terserap dengan sempurna. Terakhir, harapannya melalui adanya CoE Profesional Unggas ini dapat menambah pemahaman mahasiswa dan semangat mahasiswa untuk berinovasi dan siap masuk ke dunia kerja setelah lulus.

Bahaya Resistensi Antibiotik Ternak Unggas, Dosen UMM Tanggapi Hal tersebut

Peternakan UMM – Antibiotik masih ada saja digunakan oleh peternak ayam boiler. Dilansir melalui Detik News pada Desember 2024 kemarin, penggunaan antibiotik sebagai pencegah digunakan kembali. Penggunaannya menurun sejak diterbitkannya peraturan yang melarang penggunaan antibiotik sebagai pencegah penyakit, namun kembali digunakan pada akhir tahun 2024. Padahal, pemerintah melalui peraturan Menteri Pertanian No.14 Tahun 2017 mengenai klasifikasi obat hewan telah tegas sangat membatasi dan mengawasi penggunaan obat antibiotik dalam mengatasi penyakit bakterial pada unggas. Dr. drh. Imbang Dwi Rahayu, M.Kes selaku dosen Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengomentari penggunaan antibiotik pada ayam boiler. Menurutnya, penggunaan antibiotik pada ayam boiler hanya terbatas untuk pengobatan saja, saat ternak tersebut terserang penyakit bakteri yang berbahaya dan perlu ditangani dengan segera. “Jika dalam kasusnya memberikan antibiotik untuk pencegahan penyakit bakteri saya rasa itu tidak boleh dilakukan. Karena mengingat, penggunaan antibiotik sebagai imbuan pakan dalam jangka waktu yang lama dengan jenis yang sama akan menyebabkan resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut” ucapnya. Penggunaan antibiotik memang marak digunakan pada peternakan ayam boiler untuk mendukung daya tahan unggas terhadap serangan bakteri yang berbahaya. Praktik ini sebenarnya telah banyak dilakukan di tahun 2016-2018, kemudian turun setelah keluarnya peraturan Kementerian Pertanian No.14 Tahun 2017. Antibiotik pencegah yang digunakan pada saat itu berupa Antibiotic Growth Promotor (AGP) yang bertujuan untuk mencegah penyakit dan merangsang pertumbuhan. Contoh AGP seperti Bacitracin, Virginiamycin, Avilamycin, Trinitromycin, Colistine, dan Enramycin, namun penggunaannya saat ini telah dihentikan karena dapat menyebabkan resistensi bakteri terhadap antibiotik tertentu dan meninggalkan residu pada daging dan organ viseral ayam. Peraturan Kementerian Pertanian No.14 Tahun 2017 menyatakan bahwa penggunaan obat bebas terbatas dalam hal ini antibiotik harus melalui pengawasan dokter dengan ketentuan disediakan dalam jumlah, aturan dosis, bentuk sediaan, dan cara pemberian tertentu. Hal ini untuk mencegah terjadinya residu antibiotik pada produk ternak dan kontaminasi bakteri resisten antibiotik yang dapat menyebar di kandang dan lingkungan sekitar. Imbang, selaku dosen yang memiliki konsentrasi di bidang sains unggas mengatakan bahwa dampak pemberian antibiotik yang tidak sesuai akan berdampak langsung pada terjadinya resistensi bakteri. “Pemberian antibiotik berkelanjutan atau jangka panjang dengan jenis yang sama bukan malah membuat ayam semakin sehat, malah bakteri akan mengalami mutasi gen untuk kebal terhadap antibiotik tersebut. Bakteri itu bisa bermutasi dan menyesuaikan lingkungan antibiotik di sekitarnya, sama seperti makhluk hidup lainnya,” imbuhnya. Lebih lanjut, ia mengatakan dalam penggunaan antibiotik pertama harus didasarkan atas diagnosis yang pasti oleh tenaga ahli, kedua pemberian harus cocok dengan jenis agen bakteri, ketiga harus memperhatikan waktu henti obat (withdrawl time). Waktu henti obat adalah waktu yang dibutuhkan obat dari mulai diberikan sampai sisa obat dikeluarkan dari tubuh, hal ini untuk menghindari residu antibiotik pada daging dan jeroan ayam Dampak buruknya ketika terlanjur terjadi resistensi bakteri adalah tingginya perkembangan bakteri pembawa penyakit di kandang dan lingkungan sekitar kandang. Hal ini berdampak pada terjadinya kontaminasi bakteri pada sumber air minum, yang pada ujungnya mengganggu kesehatan manusia juga. Sementara itu, pada daging yang mengandung residu antibiotik dapat memberikan dampak terjadinya resistensi bakteri pada manusia. Imbang memberikan cara terbaik untuk mencegah perkembangan bakteri berbahaya dengan pemberian feed additive contohnya herbal. Feed additive merupakan bahan tambahan pakan seperti contohnya campuran herbal. ” feed additive herbal sudah banyak beredar di masyarakat, apalagi UMM juga telah mengembangkan jamu ternak untuk menjaga kesehatan ternak dan telah diteliti efektivitasnya,” tambahnya. Jamu tersebut memiliki merek Siyuna yang diformulasikan khusus untuk ternak ayam dari campuran herbal seperti jahe, kencur, kunyit, laos, dan lempuyang untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan nafsu makan ternak. Jamu tersebut telah diformulasikan sejak tahun 2020 dan telah beredar di toko online komersial untuk didapatkan secara mudah. Terakhir, Imbang berharap dengan pemberian jamu herbal ketimbang antibiotik sebagai feed additive, ialah untuk memaksimalkan penggunaan hayati nusantara dan mengembangkan peternakan organik tanpa ada campur tangan bahan kimia yang berdampak pada manusia.

Dosen Peternakan UMM Tanggapi Masalah PMK yang Kembali Mewabah

Peternakan UMM – Menjelang tahun baru 2025, Indonesia kembali digegerkan melalui penyebaran virus penyakit mulut dan kuku (PKM) pada hewan ternak sapi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Tercatat, ada ratusan sapi yang terjangkit dan telah menyebar ke beberapa wilayah di Tasikmalaya. Mendengar kabar tersebut, Prof. Dr. drh. Lili Zalizar,M.S. selaku dosen Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang memberikan pendapat. Menurutnya penyebaran kembali wabah PMK Tasikmalaya perlu ditelusuri kembali penyebabnya. Karena setelah terbebas selama 32 tahun, di tahun 2022  Indonesia kembali digemparkan dengan penyakit ini kemudian mereda dan saat ini kembali mewabah kembali. “Kasus kembalinya PMK disebabkan karena pengawasan terhadap Kesehatan ternak di Indonesia rendah sehingga PMK kembali mewabah,” tambahnya.Pengawasan terhadap kesehatan ternak tidak hanya saat ada wabah namun perlu dulakukan secara terus menerus berkelanjutan. Setelah dinyatakan bebas dengan pemberian vaksin secara masif, akhir tahun 2024 Indonesia kembali digegerkan adanya penyebaran penyakit PMK di Tasikmalaya. Penyebaran penyakit ini diketahui melalui kontak langsung antara hewan, kontak dengan makanan, dan penyebaran melalui udara. Penyakit PMK disebabkan oleh virus RNA dari genus aphthovirus dan family Picornaviridae. Jenis virus ini memiliki tujuh serotype yaitu A, O, C, Asia1, SAT1 (Southern African Territories 1), SAT2, dan SAT3. Masing-masing tipe memiliki kekebalan yang berbeda, sehingga hewan yang sudah kebal terhadap salah satu jenisnya dapat kembali terjangkit dengan serotipe lainnya. Lili, selaku dosen peternakan yang menekuni bidang kesehatan ternak menyatakan tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain membatasi  pengeluaran sapi hidup dari daerah merah (daerah terjangkit) ke daerah yang tidak terjangkit demikian juga sebaliknya. Selain pembatasan, ia juga menyarankan pemberian vaksin kepada seluruh ternak yang belum terkena penyakit PMK. Pemberian vaksin bertujuan agar tubuh ternak mengenali virus sehingga akan menciptakan kekebalan tubuh untuk melawan virus tersebut.Pemberian vaksin sudah melalui riset sehingga  dosis dan waktu pemberiannya sudah sesuai dan menciptakan kekebalan tubuh yang cukup untuk melawan virus. Oleh karena itu sebaiknya peternak bersedia ternaknya divaksinasi. Ciri fisik paling umum dikenali jika ternak terjangkit PMK adalah munculnya air liur berlebih, luka atau erosi di lidah,bagian dalam  pipi atau bibir, hingga luka iritasi pada area kelenjar susu. Demikian juga pada jaringan lunak diantara kuku bisa terlihat luka atau erosi. Penanganan yang dapat dilakukan jika sapi sudah terjangkit PMK adalah dengan pemberian multivitamin, antiseptik, dan penanganan lain yang dilakukan oleh tenaga ahli. Mengingat sapi  tidak mau makan dan minum maka peternak sebaiknya membantu memberikan air minum dan pakan yang lembek agar  ternak tidak menjadi lebih lemah.Selain itu  untuk mencegah sapi mengalami penurunan berat badan drastis dan mencegah kematian akibat kekurangan nutrisi. “Tidak usah khawatir, sapi yang terjangkit PMK dagingnya tetap bisa dikonsumsi. Virus PMK tidak menular ke manusia.Apalagi virus mudah mati pada suhu panas tambahnya. Terakhir, ia menyatakan bahwa tindakan yang harus dilakukan agar ternak dapat terhindar dari penyakit PMK adalah dengan pemberian imunomodulator seperti jamu dan rempah-rempah khusus bagi ternak. Hal ini untuk meningkatkan sistem imunitas ternak. Juga memperhatikan kebersihan kandang untuk menghindari adanya mikroba berbahaya. Jika hal tersebut dilakukan, maka kemungkinan besar dapat terhindar dari berbagai penyakit seperti PMK.

Dosen Peternakan UMM Sebut Rencana Impor 1,5 Juta Sapi Membuka Peluang RI di Bidang Peternakan

Peternakan UMM – Republik Indonesia rencanakan bakal impor sapi hidup sebanyak 1,5 juta ekor. Hal ini bertujuan untuk menaikkan produksi peternakan sapi untuk menutupi kekurangan produksi susu sapi di Indonesia. Rencana ini juga bertujuan untuk mendukung program makan bergizi gratis yang deprogram oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Tanggapan Pemateri Menanggapi rancangan tersebut, Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt Dosen Program Studi (Prodi) Universitas Muhammadiyah Malang mengaku memberi dukungan penuh terhadap rancangan pemerintah tersebut. Menurutnya, impor dapat mendukung kenaikan produksi susu segar dan daging segar untuk mendukung program makan bergizi gratis. Menurutnya, rencana impor sapi hidup seperti ini dapat menutupi kebutuhan susu sapi segar RI yang mencapai 80%. “Karena selama ini produksi nasional hanya dapat memenuhi kebutuhan 20% saja, maka dari itu sebenarnya impor sapi hidup ini perlu didukung untuk menggerakkan peternakan di Indonesia,” tambahnya. Faktor yang mempengaruhi importir sapi RI karena sapi nasional yang jumlahnya belum mencukupi. Selain itu, nilai transportasi penyebaran ternak nasional juga sangat tinggi. Hal ini membuat banyak para pedagang mengimpor sapi dari negara seperti Australia, Selandia Baru, India, Brazil, dan lainnya. Peraturan Pemerintah Untuk itu, pemerintah melalui rencananya juga telah merevisi Peraturan Pemerintah (PP) No. 4 Tahun 2016 menjadi PP No. 11 Tahun 2022 mengenai larangan impor ternak hidup dari negara yang dinilai tidak sehat oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau WOAH. Hal ini untuk membuka peluang luas importer sapi yang berkualitas untuk dibawa hidup-hidup ke Indonesia. Namun, perlu digaris bawahi, sapi impor yang akan dibeli oleh Indonesia juga akan dilakukan seleksi wilayah dan pengecekan kesehatan sapi. Seleksi wilayah importir bertujuan untuk mengurangi resiko terbawanya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang dibawa oleh virus RNA yang termasuk dalam genus Apthovirus, keluarga Picornaviridae. Lanjut Ali, impor sapi hidup ke Indonesia ini sebenarnya juga akan membawa peluang besar bagi masyarakat. Jika ditelaah lebih jauh, program impor ini akan menyasar pada program makan gizi gratis bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka. Tentu, hal ini juga akan mengurangi tingkat gizi buruk anak seperti stunting, mal nutrisi, dan lain-lain. “Impor sapi hidup ini juga dapat memberikan peluang bagi peternak untuk mengembangkan peternakan sapi yang lebih masif, membuka lapangan pekerjaan, dan mencukupi kebutuhan suus juga daging sapi di Indonesia,” ucapnya. Harapannya, melalui impor sapi ini dapat memberikan peluang besar bagi peternak sapi nasional. Hal tersebut diharapkan akan mencukupi kebutuhan akan produk susu dan daging sapi segar di Indonesia. “Harapannya juga pemerintah bersama instansi pendidikan nantinya juga bekerjasama untuk menyelaraskan hasil peternakan di Indonesia untuk kebutuhan program besar pemerintah seperti makan bergizi grats bagi anak-anak,” uangkapnya mengakhiri.

Mahasiswa Peternakan UMM Rancang Disinfektan Alami Guna Tingkatkan Produktivitas Ayam Petelur

Peternakan UMM – Beternak ayam petelur memiliki resiko tinggi rentan terhadap penyakit. Salah satunya adalah penyakit saluran pernapasan akibat gas amonia yang ditimbulkan kotoran ayam. Selain itu, gas amonia juga dapat menurunkan kualitas serta kuantitas dari telur ayam. Menjawab hal tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merancang formulasi disinfektan alami untuk mengatasi kadar gas amonia serta hidrogen sulfida. Disinfektan tersebut diambil dari senyawa fenolik daun gambir yang banyak ditemukan di Indonesia. Para Perancang Ialah, Farid Wahidin, Annisa Adelia Zulfana, Yulya Ulfa Majoli, Ferdi Dwi Maulana Harianto, dan Hasni Achmadi Syafar yang merancang formulasi disinfektan dari daun gambir untuk diterapkan pada peternak ayam petelur. Ia mengatakan bahwa daun gambir memiliki senyawa katekin mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram positif seperti bakteri oreolitik. Bakteri oreolitik merupakan bakteri yang dapat menghasilkan enzim urea untuk menguraikan urea menjadi amonia dan hidrogen sulfida. Jenis bakteri ini banyak ditemukan tumbuh alami pada kotoran hewan yang memiliki banyak kandungan urea di dalamnya. “Apabila dalam batas normal, bakteri ini akan membantu untuk menguraikan kotoran menjadi gas amonia dan karbondioksida. Tapi seringnya dalam kondisi berlebih, gas amonia hasil penguraian bakteri oreolitik menyebabkan masalah baru berupa sakit pernapasan pada ayam petelur,” tambah Farid selaku ketua tim. Dampak utama gas amonia dan hdrogen sulfida yang berlebih dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi telur ayam petelur. Batas maksimal kadar gas amonia di kandang ayam adalah berkisar 20-25 pmm (Part Per Million). Jika melebihi batas tersebut, gas amonia dan hidrogen sulfida dapat menyebabkan pembentukan kerabang telur abnormal dan cangkang telur tipis. Kerabang merupakan lapisan terluar telur pada unggas yang melindungi telur unggas dari mikroorganisme dan penyakit. Efek Samping Selain itu, gas amonia dan hidrogen sulfida yang berlebih juga menyebabkan permasalahan lingkungan seperti penyebab efek rumah kaca, bau ‘pesing’ yang ditimbulkan. Selain itu, masalah pernapasan yang berdampak pada anak buah kandang (ABK) dan masyarakat sekitar lokasi kandang, juga menjadi diantaranya. Farid menambahkan, bahwa ekstrak senyawa katekin daun gambir dapat segera diterapkan pada peternak ayam petelur setelah formulasi yang dibuat diresmikan. Setelah melakukan pengujian formulasi disinfektan daun gambir, pada konsentrasi 9%, senyawa katekin dapat menurunkan kadar amonia hingga 43,1%. “Hasil ini masih kami uji coba agar kadar ammonia dan hydrogen sulfide dapat turun hingga 50% dari batas aman kadar gas di kandang,” ucapnya. Harapannya, melalui penelitian ini permasalahan bau amonia dan efeknya pada ayam petelur dapat teratasi dan produktivitas telur dapat terus meningkat. Selain itu, Farid dan tim juga akan terus merancang formulasi terbaik dan melakukan pengujian pada kandang secara langsung. Diharapankan untuk melihat penurunan signifikan gas amonia dan hidrogen sulfida.

Berkenalan Dengan Deny, Mahasiswa Prodi Peternakan yang Mendapat Penghargaan Bebas Tugas Akhir

Mahasiswa Prodi Peternakan UMM Bebas Tugas Akhir

Sebagai wujud Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah terapkan konversi bebas tugas akhir pada mahasiswanya. Ialah Deny Dwi Ariza, mahasiswa angkatan 2023 yang peroleh konversi bebas tugas akhir. Konversi bebas tugas akhir merupakan salah satu program kuliah pasti lulus yang dimiliki UMM. Mahasiswa yang berprestasi akademik maupun non akademik akan diberi penghargaan berupa konversi, seperti konversi mata kuliah, bebas tugas akhir, atau jenis konversi sesuai dengan prodi yang ditempuh. Beberapa ajang yang dapat dikonversi seperti program kreativitas mahasiswa (PKM), Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), olimpiade, kejuaraan internasional, dan penerbitan jurnal ilmiah bertaraf sinta atau scopus. Salah satu mahasiswa yang mendapat penghargaan tersebut adalah Deny, mahasiswa asal Malang yang berhasil membawa nama UMM pada ajang P2MW hingga menuju Kendari, Sulawesi Tengah untuk mengikuti KMI Expo yang diadakan di Universitas Halu Oleo akhir Oktober lalu. Sebagai gambaran, KMI Expo merupakan rangkaian kegiatan P2MW yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbud ristek). KMI Expo menjadi ajang pertemuan wirausaha mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk berkompetisi, memperkenalkan produk, dan membangun jaringan. Walaupun terhitung mahasiswa baru, Deny tak gentar untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. Hal ini terbukti dengan keaktifannya mengikuti kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Entrepreneur (BE). Deny mengatakan bahwa penghargaan yang ia peroleh merupakan hasil dari dukungan dari lingkungan sekitarnya. “Baik orang tua, teman, maupun dosen UMM memberikan saya banyak dukungan untuk saya berkembang hingga bisa lolos P2MW ini. Terlebih lagi, dukungan dari UMM melalui binaan mengenai bisnis, seminar bisnis, maupun melalui kegiatan seperti UKM sangat membantu saya dalam mengikuti ajang P2MW,” ucapnya. Dirinya dan tim mengangkat isu budidaya kambing perah yang mampu menghasilkan susu dengan kandungan omega-3 yang tinggi. Hal ini dikarenakan tingginya permintaan akan susu kambing, membuat Deny dan tim tergerak untuk mengolah susu kambing dengan kandungan lemak omega-3 yang tinggi. Selain aktif di bidang akademik, Deny juga memiliki cita-cita untuk menjadi seorang wirausahawan. Hal ini tercermin melalui usaha puyuh petelur yang sempat terhenti di 2018 dan ia dirikan kembali sejak 2021. Berbekal pengalamannya, ia berhasil menciptakan usaha puyuh petelur dengan produk telur unggulan dan hasil samping berupa pupuk kandang komersil. Ia berharap, nantinya setelah menempuh pendidikan tinggi, ia ingin agar apa yang didapatkan selama kuliah dapat menjadi bekalnya untuk mengembangkan bisnisnya dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. “Saya teringat salah satu perkataan pebisnis tanah air bahwa saya tidak mau pengalaman yang didapat dari pendidikan hanyut dan terkubur saja. Maka dari itu, saya ingin mewujudkan apa yang saya dapat melalui UMM dengan mengembangkan relasi dan bisnis yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” tandasnya mengakhiri.

Sosialisasi Peternakan UMM, Persiapkan Mahasiswa Sebelum Terjun Ke Dunia Industri

Peternakan UMM – Persaingan ketat dalam dunia karir menjelang 2025, membuat instansi pendidikan semakin gencar mempersiapkan peserata didiknya sebelum memasuki industri. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, mempersempit kesempatan kerja, sehingga diperlukan peserta didik yang memiliki pengetahuan teknologi dan inovasi yang tinggi. Menyikapi hal ini, Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan sosialisasi kelas Center of Excellent (CoE) bagi angkatan 2022, pada 19 Desember 2024 lalu. Bayu Etti Tri Adiyastiti, selaku Ketua Prodi Peternakan, mengatakan bahwa menjelang tahun 2025 merupakan tahapan penting untuk memperiapkan diri sebelum masuk ke dunia kerja. “Dalam tahapan ini, mahasiswa perlu menggali peminatan yang sesuai dengan minat, bakat, dan cita-cita kedepannya. Peminatan yang tepat dapat membantu dalam perencanaan dan mencapai tujuan akademik serta karir kedepannya,” ujarnya. Tujuan utamanya adalah untuk mempersiapkan dan memetakan mahasiswa sesuai dengan kemampuan dan minatnya di dunia industri. Selain itu, sosialisasi ini juga bertujuan memperkenalkan CoE Profesional Unggas, CoE Profesional Ruminansia, dan pilihan kelas Entrepreneur atau kelas Regular yang dapat dikuti oleh mahasiswa. Pilihan Kelas Profesional Unggas Pada kelas Professional Unggas, mahasiswa akan diberi bekal materi maupun praktek mengenai bisnis unggas. CoE ini juga menghadirkan tawaran program magang bagi mahasiswa selama enam bulan pada mitra industri seperti PT. Jatinom Indah Agri, PT Charoen Pokphand Indonesia, PT Sanbe Farma, PTMensana, PT Sapta Karya Megah, dan PT Cipta Ternak Unggul Selama magang, mahasiswa akan diberi tanggung jawab mengurus 30.000 hingga 50.000 ayam dan 10-20 karyawan. Melalui praktek penerapan manajemen tersebut, diharapkan dapat mempersiapkan mahasiswa agar memperoleh kemampun yang mumpuni sebelum masuk di dunia industri. Output yang didapatkan pada CoE Unggas yaitu spesialisasi manajer farm pullet, manajer farm layer dan manajer breeding dan Hatchery. Kompetensi untuk Dunia Ruminansia Sementara itu, jika mahasiswa memiliki minat pada dunai ruminansia, mahasiswa peternakan dapat masuk pada kelas Professional Ruminansia. Pada CoE Ruminansia ini, mahasiswa akan dilatih untuk memiliki lima kompetensi seperti logistic pakan, intensive feedlot system, extensive feedlot system, intensive dairy system, dan extensive dairy system. Untuk mengakomodasi kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja serta memenuhi kriteria SKKNI level 6. CoE Ruminansia juga bekerjasama dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) seperti PT. Greenfields Indonesia, PT. Great Giant Livestock (GGLC), PT. Karyana Gita Utama (KGU), PT.Fajar Taurus Dairy Farm, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Balai Embrio Ternak (BET) dan lainnya Pilihan Kelas Entreprenuer dan Reguler Begitu juga dengan mahasiswa yang tidak memiliki minat pada kedua CoE tersebut dapat mengikuti kelas Regular atau kelas Entrepreneur yang memiliki sistem pendidikan sama untuk mempersiapkan kemampuan mahasiswa untuk membuka usaha secara mandiri dan kemampuan analisis di laboratorium. Melalui kelas Entrepreneur dan Regular, mahasiswa akan dibekali materi-materi dari dosen yang memiliki kemampuan dalam bidangnya. Sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai berbagai macam Program CoE (KPR dan KPU) dan pilihan kelas Entrepreneur dan Reguler. Selain itu, mahasiswa juga dapat lebih yakin dan siap untuk menentukan langkah selanjutnya sebelum masuk dunia kerja.