Peternakan UMM – Antibiotik masih ada saja digunakan oleh peternak ayam boiler. Dilansir melalui Detik News pada Desember 2024 kemarin, penggunaan antibiotik sebagai pencegah digunakan kembali. Penggunaannya menurun sejak diterbitkannya peraturan yang melarang penggunaan antibiotik sebagai pencegah penyakit, namun kembali digunakan pada akhir tahun 2024. Padahal, pemerintah melalui peraturan Menteri Pertanian No.14 Tahun 2017 mengenai klasifikasi obat hewan telah tegas sangat membatasi dan mengawasi penggunaan obat antibiotik dalam mengatasi penyakit bakterial pada unggas.
Dr. drh. Imbang Dwi Rahayu, M.Kes selaku dosen Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengomentari penggunaan antibiotik pada ayam boiler. Menurutnya, penggunaan antibiotik pada ayam boiler hanya terbatas untuk pengobatan saja, saat ternak tersebut terserang penyakit bakteri yang berbahaya dan perlu ditangani dengan segera.
“Jika dalam kasusnya memberikan antibiotik untuk pencegahan penyakit bakteri saya rasa itu tidak boleh dilakukan. Karena mengingat, penggunaan antibiotik sebagai imbuan pakan dalam jangka waktu yang lama dengan jenis yang sama akan menyebabkan resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut” ucapnya.
Penggunaan antibiotik memang marak digunakan pada peternakan ayam boiler untuk mendukung daya tahan unggas terhadap serangan bakteri yang berbahaya. Praktik ini sebenarnya telah banyak dilakukan di tahun 2016-2018, kemudian turun setelah keluarnya peraturan Kementerian Pertanian No.14 Tahun 2017. Antibiotik pencegah yang digunakan pada saat itu berupa Antibiotic Growth Promotor (AGP) yang bertujuan untuk mencegah penyakit dan merangsang pertumbuhan. Contoh AGP seperti Bacitracin, Virginiamycin, Avilamycin, Trinitromycin, Colistine, dan Enramycin, namun penggunaannya saat ini telah dihentikan karena dapat menyebabkan resistensi bakteri terhadap antibiotik tertentu dan meninggalkan residu pada daging dan organ viseral ayam.
Peraturan Kementerian Pertanian No.14 Tahun 2017 menyatakan bahwa penggunaan obat bebas terbatas dalam hal ini antibiotik harus melalui pengawasan dokter dengan ketentuan disediakan dalam jumlah, aturan dosis, bentuk sediaan, dan cara pemberian tertentu. Hal ini untuk mencegah terjadinya residu antibiotik pada produk ternak dan kontaminasi bakteri resisten antibiotik yang dapat menyebar di kandang dan lingkungan sekitar.
Imbang, selaku dosen yang memiliki konsentrasi di bidang sains unggas mengatakan bahwa dampak pemberian antibiotik yang tidak sesuai akan berdampak langsung pada terjadinya resistensi bakteri.
“Pemberian antibiotik berkelanjutan atau jangka panjang dengan jenis yang sama bukan malah membuat ayam semakin sehat, malah bakteri akan mengalami mutasi gen untuk kebal terhadap antibiotik tersebut. Bakteri itu bisa bermutasi dan menyesuaikan lingkungan antibiotik di sekitarnya, sama seperti makhluk hidup lainnya,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan dalam penggunaan antibiotik pertama harus didasarkan atas diagnosis yang pasti oleh tenaga ahli, kedua pemberian harus cocok dengan jenis agen bakteri, ketiga harus memperhatikan waktu henti obat (withdrawl time). Waktu henti obat adalah waktu yang dibutuhkan obat dari mulai diberikan sampai sisa obat dikeluarkan dari tubuh, hal ini untuk menghindari residu antibiotik pada daging dan jeroan ayam
Dampak buruknya ketika terlanjur terjadi resistensi bakteri adalah tingginya perkembangan bakteri pembawa penyakit di kandang dan lingkungan sekitar kandang. Hal ini berdampak pada terjadinya kontaminasi bakteri pada sumber air minum, yang pada ujungnya mengganggu kesehatan manusia juga. Sementara itu, pada daging yang mengandung residu antibiotik dapat memberikan dampak terjadinya resistensi bakteri pada manusia.
Imbang memberikan cara terbaik untuk mencegah perkembangan bakteri berbahaya dengan pemberian feed additive contohnya herbal. Feed additive merupakan bahan tambahan pakan seperti contohnya campuran herbal.
” feed additive herbal sudah banyak beredar di masyarakat, apalagi UMM juga telah mengembangkan jamu ternak untuk menjaga kesehatan ternak dan telah diteliti efektivitasnya,” tambahnya.
Jamu tersebut memiliki merek Siyuna yang diformulasikan khusus untuk ternak ayam dari campuran herbal seperti jahe, kencur, kunyit, laos, dan lempuyang untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan nafsu makan ternak. Jamu tersebut telah diformulasikan sejak tahun 2020 dan telah beredar di toko online komersial untuk didapatkan secara mudah.
Terakhir, Imbang berharap dengan pemberian jamu herbal ketimbang antibiotik sebagai feed additive, ialah untuk memaksimalkan penggunaan hayati nusantara dan mengembangkan peternakan organik tanpa ada campur tangan bahan kimia yang berdampak pada manusia.