Peternakan UMM – Menjelang tahun baru 2025, Indonesia kembali digegerkan melalui penyebaran virus penyakit mulut dan kuku (PKM) pada hewan ternak sapi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Tercatat, ada ratusan sapi yang terjangkit dan telah menyebar ke beberapa wilayah di Tasikmalaya.
Mendengar kabar tersebut, Prof. Dr. drh. Lili Zalizar,M.S. selaku dosen Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang memberikan pendapat. Menurutnya penyebaran kembali wabah PMK Tasikmalaya perlu ditelusuri kembali penyebabnya. Karena setelah terbebas selama 32 tahun, di tahun 2022 Indonesia kembali digemparkan dengan penyakit ini kemudian mereda dan saat ini kembali mewabah kembali.
“Kasus kembalinya PMK disebabkan karena pengawasan terhadap Kesehatan ternak di Indonesia rendah sehingga PMK kembali mewabah,” tambahnya.Pengawasan terhadap kesehatan ternak tidak hanya saat ada wabah namun perlu dulakukan secara terus menerus berkelanjutan.
Setelah dinyatakan bebas dengan pemberian vaksin secara masif, akhir tahun 2024 Indonesia kembali digegerkan adanya penyebaran penyakit PMK di Tasikmalaya. Penyebaran penyakit ini diketahui melalui kontak langsung antara hewan, kontak dengan makanan, dan penyebaran melalui udara.
Penyakit PMK disebabkan oleh virus RNA dari genus aphthovirus dan family Picornaviridae. Jenis virus ini memiliki tujuh serotype yaitu A, O, C, Asia1, SAT1 (Southern African Territories 1), SAT2, dan SAT3. Masing-masing tipe memiliki kekebalan yang berbeda, sehingga hewan yang sudah kebal terhadap salah satu jenisnya dapat kembali terjangkit dengan serotipe lainnya.
Lili, selaku dosen peternakan yang menekuni bidang kesehatan ternak menyatakan tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain membatasi pengeluaran sapi hidup dari daerah merah (daerah terjangkit) ke daerah yang tidak terjangkit demikian juga sebaliknya.
Selain pembatasan, ia juga menyarankan pemberian vaksin kepada seluruh ternak yang belum terkena penyakit PMK. Pemberian vaksin bertujuan agar tubuh ternak mengenali virus sehingga akan menciptakan kekebalan tubuh untuk melawan virus tersebut.Pemberian vaksin sudah melalui riset sehingga dosis dan waktu pemberiannya sudah sesuai dan menciptakan kekebalan tubuh yang cukup untuk melawan virus. Oleh karena itu sebaiknya peternak bersedia ternaknya divaksinasi.
Ciri fisik paling umum dikenali jika ternak terjangkit PMK adalah munculnya air liur berlebih, luka atau erosi di lidah,bagian dalam pipi atau bibir, hingga luka iritasi pada area kelenjar susu. Demikian juga pada jaringan lunak diantara kuku bisa terlihat luka atau erosi.
Penanganan yang dapat dilakukan jika sapi sudah terjangkit PMK adalah dengan pemberian multivitamin, antiseptik, dan penanganan lain yang dilakukan oleh tenaga ahli. Mengingat sapi tidak mau makan dan minum maka peternak sebaiknya membantu memberikan air minum dan pakan yang lembek agar ternak tidak menjadi lebih lemah.Selain itu untuk mencegah sapi mengalami penurunan berat badan drastis dan mencegah kematian akibat kekurangan nutrisi.
“Tidak usah khawatir, sapi yang terjangkit PMK dagingnya tetap bisa dikonsumsi. Virus PMK tidak menular ke manusia.Apalagi virus mudah mati pada suhu panas tambahnya.
Terakhir, ia menyatakan bahwa tindakan yang harus dilakukan agar ternak dapat terhindar dari penyakit PMK adalah dengan pemberian imunomodulator seperti jamu dan rempah-rempah khusus bagi ternak. Hal ini untuk meningkatkan sistem imunitas ternak. Juga memperhatikan kebersihan kandang untuk menghindari adanya mikroba berbahaya. Jika hal tersebut dilakukan, maka kemungkinan besar dapat terhindar dari berbagai penyakit seperti PMK.